Kyai Khos Versus Kyai Hight Cost

posted in: Uncategorized | 0


Kyai Khos Versus Kyai Hight Cost
Senin, 05 Mei 2014 , 09:59:00 WIB

Oleh: Munawar Fuad

DRAMA sowan politik para capres ke para kyai di pesantren menjadi fenomena rutin tiap kali hajatan Pemilu dari masa ke masa. Bahkan sejak era Nusantara, peranan kyai memang sangat besar dalam gerakan moral politik, kepeloporan perjuangan secara fisik maupun keilmuan dan pengaruhnya.

Namun, di era pemilihan langsung seperti Pilpres dalam memilih secara langsung siapa presiden dan wakil presiden baru teruji saat 2004 dan 2009.

Di era 2004, euforia awal Pilpres secara langsung, ditandai dengan peran kyai sebagai aktor alias calon wakil presiden, broker, juru runding, produsen fatwa sampaiĀ  juru kampanye, serta vote getter. Banyak variasi, peran politik kyai dalam mendorong suara dan aspirasi politik warganya.

Meskipun banyak ragam, para capres, tim sukses maupun rakyat semestinya jeli menilai, mana kyai khos dan mana kyai high cost ?

Kyai khos adalah yai yang dengan tulus dan murni menjadi guru moral politik dan menjadi pengayom bagi semua capres. Sementraa kyai high cost, merupakan kyai yang berperan sebagai broker politik, berpolitik secara pragmatis dan menguras banyak biaya dalam tiap interakasi politiknya dengan para Capres. Secara mudah, ada kyai yang selalu mendoakan dengan bacaan al-Faatihah, ada juga kyai yang lebih berharap alphard alias mobil mewah alphard.

Sebagai mantan Ketua dan Sekjen Gerakan Pemuda Ansor, saya memetakan ada kyai partisan dan kyai independen. Kyai partisan adalah kyai yang terlibat langsung sebagai pengurus struktur partai, NU ataupun lembaga keagamaan. Sementara kyai independen sebagai kyai yang mempunyai sikap mandiri dan bebas berperan di luar struktur atau kyai struktur.

Pengalaman 2004 dan 2009 dalam Pilpres, kyai independen lebih punya pengaruh langsung dan efeknya mujarab bagi mendongkrak elektabilitas capres.

Saatnya tiap capres, Tim sukses dan terutama para pemilih lebih memandang Pilpres sebagai otoritas pribadi dan setiap orang berhak menentukan hak pilihnya. Namun demikian, di daerah yang berbasis kuat dengan tradisi kyai dan pengaruhnya seperti Madura dan Kawasan Tapal Kuda, pengaruh kyai memang sangat kuat. Di kawasan Jombang Jawa Timur saja, 2004, pasangan SBY-JK yang tidakĀ  pernah berkampanye di area basis pesantren tersebut, mengalahkan para capres lainnya.

Munawar Fuad, penulis buku Kyai di Panggung Pemilu dari Kyai Khos sampai Kyai High Cost, dan juga mantan Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor. [ysa]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.